RedBlueDark SmallMediumLarge NarrowWideFluid
Home Blog Article Otoped, Sepeda untuk Mencegah Diabetes
Otoped, Sepeda untuk Mencegah Diabetes PDF Print E-mail
Written by (Mom& Kiddie//tty)   
Tuesday, 10 June 2008 00:34


ACAPKALI
orangtua mengalami kesulitan mengajak buah hatinya bergerak. Nah, otoped menjadi salah satu alat bantu yang fun mengajak anak bergerak sambil bermain.

Dr Grace Tumbelaka SpKO mengatakan, anak-anak kini banyak dimanjakan dengan kegiatan berpangku tangan. Bila anak-anak tidak diajak bergerak sejak dini, mereka bisa terkena penyakit metabolik.

"Karena jarang melakukan aktivitas yang merangsang motorik kasarnya, anak-anak rentan terkena obisitas, hipertensi, diabetes mellitus, jantung koroner hingga hiperkolesterol," tutur dokter kelahiran Jakarta, 31 Januari 1969 ini.

Kelihatannya, saat bermain otoped (kids scooter), anak-anak tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra. Tetapi menurut dr Grace, bermain otoped tergolong latihan jasmani. "Untuk menggerakkan otoped, anak menggunakan otot besarnya, yakni tungkai kaki. Saat bermain otoped, anak melakukan secara kesinambungan dan berirama," beber lulusan Ilmu Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Anak-anak tidak serta merta menggerakkan otoped, langsung ditinggal begitu saja. Mereka melakukannya secara berkelanjutan. Saat otoped bergerak, mereka memberi daya dengan kakinya. Sesekali otoped berhenti dan kaki pun menahan. Begitu selanjutnya, terjadi secara berulang-ulang.

Keseimbangan dan Sosialisasi

Karena menggunakan tungkai kaki sebagai daya menjalankan otoped, tentu otot kaki terlatih kekuatannya. Manfaat lainnya, saat anak mengendalikan otopednya, dia juga membutuhkan keseimbangan. Sebab, tidak semua otoped memiliki rem dan otoped juga tidak mempunyai kayuh. Jadi, pada saat anak mulai menggerakkan atau menghentikannya, setidaknya dia mempunyai keseimbangnan yang baik. "Satu kaki untuk menumpu dan kaki lainnya menggenjot. Bila kaki satu sama lain dan tubuh tidak seimbang, bisa jadi anak terjatuh dan terluka, "urai dokter olahraga yang menangani atlet badminton di Pelatnas PBSI, Cipayung ini.

"Biasanya, saat anak bermain otoped, dia bersama teman-temannya. Sikap sosial pun bisa dikembangkan melalui bermain otoped," tambah dokter yang berpraktek di Klinik Slim Health, Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat ini.

Atasi Cedera

Cedera bisa saja terjadi saat anak bermain otoped. Menurut istri dari Wisnu Carlo Kawilarang, ada dua jenis cedera, yakni cidera internal (kelelahan, koordinasi dan keseimbangan terganggu) dan cedera eksternal (tersandung saat melewati jalan yang tidak rata, anak menabrak atau tertabrak temannya).

Bila anak terjatuh dan luka, saran dr Grace, sebaiknya lukanya ditangani dengan memberi desinfektan pembunuh kuman. Untuk luka tertutup atau memar bisa dilakukan RICE (Rest, Ice, Compression, and Elevation).

"Istirahatkan bagian yang memar. Berikan kompres es, lalu tahan bagian tersebut dengan perban. Fungsinya, untuk menghambat inklamasi atau radang pembengkakan, kemerahan, panas, nyeri, dan fungsi tubuh terganggu karena terjadi pendarahan di daerah tersebut," terangnya. Hal terakhir yang dilakukan adalah mengangkat bagian tubuh yang memar lebih tinggi dari jantung.
(Mom& Kiddie//tty)
Last Updated on Thursday, 30 July 2009 23:38
 

Blog

Fisiologi Olahraga
Sistem kardiovaskular & ConditioningMemb...
Panduan Dasar untuk Cyclocomputers
Sebuah Cyclocomputer pada dasarnya adala...
Ayo, Pasang iPhone di Sepeda Anda
Dahon, perusahaan pembuat sepeda lipat m...
Bersepeda di Negeri Hans Christian Andersen (2)
 Tak ada data pasti berapa jumlah s...
Bersepeda di Negeri Hans Christian Andersen (1)
 Cerita Little Mermaidkarangan Han...
Kopenhagen, dari Kota Berpolusi ke "Neutral Carbon City" (2)
Tak ada yang bisa membantah bahwa keingi...
Kopenhagen, dari Kota Berpolusi ke "Neutral Carbon City" (1)
"Welcome to Climate Neutral Country”....
1001 Parkir Sepeda di Kopenhagen...
Ibukota Denmark, Kopenhagen, dikenal seb...
Komunitas Onthel Batavia Menggowes Jakarta
Kalau sudah hari Minggu begini, pengguna...
Bike to Heritage: Tembok Berlin
TIDAK terasa, sudah 20 tahun lewat seja...
Sepeda Makin Tersisih di Cina
Pesatnya perkembangan ekonomi Cina dari ...
Ngatijo, Mbengkel Itu Ibadah, Mesti Jujur...
"Mari, dik. Saya perlihatkan bentuk poro...
Bisnis Suku Cadang Sepeda
Pertumbuhan unit sepeda motor membawa ...
Salurkan Hobi dan Sehat dengan Mengayuh Pedal
Ngonthel Jadi Penghilang Suntuk HOBI t...
Kisah Dua Perempuan Penggila Sepeda Lipat
DUA perempuan ini kerap pelesir ke luar...
Mengayuh Kebugaran
Napas Reka terdengar mendengus kala ia m...
Ayo, Rame-rame Gowes ke Sekolah!
Bel sekolah berbunyi keras sampai ke lua...
Makin Digemari, Sepeda Listrik Diusulkan Punya Dokumen
Sepeda listrik mestinya juga dilengkapi ...
Kalau Pengantin Naik Sepeda...
SEPASANG muda-mudi tersebut tampak sumri...
Sepeda Murah Nan Unik
Apa yang bisa Anda buat dari serumpun ba...
Nugie Serukan Naik Sepeda
Nugie peduli lingkungan. Penyanyi ini me...
Sepeda Bersistem Komputer
Barangkali ini adalah sepeda paling cang...
Folding Bike
Sepeda lipat umumnya dibuat untuk ukura...
Sepeda Termahal di Dunia
Bagi pencinta sepeda, tentu senang berbu...
Downhill, Sahabat Gravitasi
Jangan aneh ya kalo di jalan melihat rom...
SEPEDA, mantan penguasa dunia
Boleh-boleh saja mobil mengklaim diri se...
Kompak & Sehat berkat Sepeda
BERSEPEDA bersama kelu...
Jenis Sepeda
Berdasarkan suspensi ata...
Apakah Sepeda Gunung itu.??
Sepeda gunung adalah kendaraan 4x4 nya k...
Apa lagi alasan untuk tidak naik sepeda?
BBM akhirnya naik lagi. Tarif angkutan u...
Bike2Work, Kegilaan ya Dianjurkan
Oleh: Muhammad Arief Rahman Tahukah Anda...
Sejarah Sepeda
 Seperti ditulis Ensiklopedia Colu...
Bersepeda Baik Bagi Pasien Gagal Jantung
Bagi mereka-mereka yang sudah pernah din...
Bersepeda atau Seks?
Pengendara sepeda sering mengalami gangg...